10 Puisi dan Karya Buku Terbaik Sapardi Djoko Damono

2 min read

Potret Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono, penyair legendaris yang lahir di Ngadijayan, Solo pada tanggal 20 Maret 1940 merupakan salah satu tokoh penting dalam dunia sastra Indonesia. Menulis berbagai karya fenomenal serta menerjemahkan karya penulis asing, membuatnya menjadi salah satu sastrawan budaya paling berpengaruh di Indonesia.

Riwayat Pendidikan

Potret Sapardi Djoko Damono
Potret Sapardi Djoko Damono / Indonesiakaya

Pendidikan Sapardi dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) Kraton “Kasatriyan”, Baluwarti, Solo, lalu SMP Negeri II Solo, dan dilanjutkan dengan kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM program studi Sastra Inggris. Setelahnya, Sapardi melanjutkan studi di University of Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat, tahun 1970—1971 dan lulus dari program Doktor Fakultas Sastra UI pada tahun 1989.

Karir sebagai Dosen dan Pengajar

Karir profesionalnya sebagai sastrawan dimulai saat menjadi pengajar di Fakultas Keguruan Sastra dan Seni IKIP Malang pada tahun 1968. Pada tahun 1973, ia pindah ke Jakarta dan menerbitkan majalah sastra bernama “Horison”. Mulai tahun 1974, Sapardi melanjutkan karir sebagai pengajar pengajar di Fakultas Sastra (sekarang FIB) UI dan diangkat menjadi guru besar Universitas Indonesia pada tahun 2005.

Sapardi Dojoko Damono Wikipedia
Sapardi Dojoko Damono / Wikipedia

Di kurun waktu yang sama, ada beberapa majalah tempat Sapardi menjadi Redaktur, berikut nama majalah tersebut:

  • Horison
  • Basis
  • Kalam
  • Pembinaan Bahasa Indonesia
  • Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia
  • Majalah Tenggara, Kuala Lumpur

Selain majalah diatas, berikut buku karya Sapardi Djoko Damono yang tidak kalah penting dan menjadi rujukan dunia sastra di Indonesia:

  1. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978)
  2. Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979)
  3. Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999)
  4. Novel Jawa Tahun 1950-an:Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur (1996)
  5. Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999)
  6. Sihir Rendra: Permainan Makna (1999)
  7. Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan: Sebuah Catatan Awal.
Lihat pula:  Panduan Cara Lapor Dana BOS Kemdikbud Terbaru 2020

Puisi Populer Karya Sapardi Djoko Damono

Adapun karya puisi yang sangat populer hingga sepeninggal beliau tercatat cukup banyak, karena Sapardi tiidak hanya menulis puisi panjang, tapi juga bait-bait pendek berisikan hikmah kehidupan. Berikut 10 diantara karya puisi Sapardi Djoko Damono yang fenomenal dan sangat ikonik dengan sosok beliau:

Aku Ingin – 1989

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Yang Fana Adalah Waktu – 1978

Yang fana adalah waktu.
Kita abadi memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;

Nanti dulu,
biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;

Sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Dalam Diriku

Dalam diriku mengalir sungai panjang
Darah namanya;

Dalam diriku menggenang telaga darah
Sukma namanya;

Dalam diriku meriak gelombang sukma
Hidup namanya!

Dan karena hidup itu indah
Aku menangis sepuas-puasnya.

Menjenguk Wajah di Kolam

Jangan kau ulang lagi
menjenguk
wajah yang merasa sia-sia,
yang putih
yang pasi
itu.

Jangan sekali-kali membayangkan
Wajahmu sebagai
rembulan.

Ingat, jangan sekali-kali.
Jangan.

Baik, Tuan.

Lihat pula:  5 Kebutuhan Dasar untuk Biaya Hidup di Jepang

Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar
dan tak pernah kaulihat burung itu
tapi tahu burung itu ada di sana

Hanya desir angin yang kaurasa
dan tak pernah kaulihat angin itu
tapi percaya angin itu di sekitarmu

Hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kaulihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu

Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintai-Mu harus menjelma aku

Akulah Si Telaga – 1982

akulah si telaga:

berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil

yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
— perahumu biar aku yang menjaganya.

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,

Kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.

Itulah 10 judul puisi karya Sapardi yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Makna yang dalam namun dibalut kata yang sederhana menjadi ciri tersendiri dari bait-bait puisi karya beliau.

Mengenang salah satu sastrawan terbaik Indonesia yang tutup usia pada hari Minggu, 19 Juli 2020 di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Karinov Wiki: Direktori UMKM Online